FIR’AUN YANG DITENGGELAMKAN(VI)
Tenggelamnya Fir’aun dan orang-orangnya Di Lautan.
Al Qur’an memberitaukan kepada kita tentang aspek yang paling penting dari kejadian terbelahnya Laut merah. Menurut cerita Al Qur’an, Musa pergi dari Mesir bersama dengan Bani Israel yang patuh kepadanya. Namun Fir’aun tidak bisa menerima kepergian mereka tanpa seijinnya. Ia dan tentaranya mengikuti mereka “dalam keangkaramukaan dan dendam” (Qs Yunus 90). Begitu Musa dan bani Israel telah mencapai tepian pantai, Fir’aun dan tentaranya telah menyusul mereka. Beberapa orang Bani Israel melihat keadan ini mulai mengeluh kepada Musa. Menurut Perjanjian Lama mereka berkata kepada Musa :” mengapa kamu membawa kami pergi dari negeri kami, disana kami diperbudak namun setidak-tidaknya dapat hidup, sekarang kita akan mati”. Kelemahan dari masyarakat ini juga disebutkan dalam Al Qur’an dalam ayat sebagai berikut: ” Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa;”Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”.(QS Asy Syu’araa’ 62).
Kenyataan ini bukanlah yang pertama ataupun yang terakhir bahwa bani Israel menunjukkan ketidak patuhan mereka. Kaum Musa berkata; ” kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di muka bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu”. (QS Al A’raaf 129).
Berlawanan dengan tingkah laku umatnya yang lemah, Musa sangatlah percaya diri semenjak ia percaya kepada Allah secara mendalam. Semenjak awal perjuangannya Allah telah memberitahukannya bahwa pertolongan dan dukungan-Nya akan selalu bersama Musa: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: ” Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (QS Thahaa 45-46).
Ketika Musa pertama kali bertemu dengan tukang sihir Fir’aun, ia merasa takut dalam hatinya ( QS Thaahaa 67). Allahpun memerintahkan Musa untuk tidak takut;” Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). ( QS Thaahaa 68). Dengan demikian Musa dididik oleh Allah dan memperoleh kematangan penuh dalam menghormati petunjuk-Nya. Konsekuensinya ketika beberapa orang dari kaumnya mersa takut akan tertangkap, ia berkata: “sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku (QS Asy Syu’araa’ 62).
Allah menyatakan kepada Musa bahwa ia harus memukul lautan dengan tongkatnya.:” Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS Asy Syu’araa’ 63). Sesungguhnya pada saat Fir’aun melihat mukjizat tersebut, seharusnya ia menyadari bahwa hal yang sangat luar biasa terjadi. Dan ia sedang melihat campur tangan Sang maha Suci. Lautan terbuka bagi orang-orang yang ingin dihancurkan Fir’aun. Meskipun tidak ada jaminan bahwa lautan tidak akan menutup kembali setelah mereka menyebrang, namun ia dan bala tantaranya tetap menyusul bani Israil ke dalam lautan. Kemungkinan besar Fir’aun dan tentaranya telah kehilangan kemampuannya untuk berpikir sehat dikarenakan keangkaramurkaan dan kedengkian mereka, dan tidak bisa memahami mukjizat alam dari keadaan tersebut.
Sangatlah jelas untuk dipahami dari ayat ini bahwa Musa diberitahu atas pertanyaan, bahwa Fir’aun akan percaya kepada Allah pada saat ia menghadapi hukuman yang menyakitkan. Fir’aun benar-benar berkata bahwa ia percaya kepada Allah ketika air mulai menenggelamkannya. Sangatlah jelas bahwa tindakan Fir’aun merupakan tindakan yang tidak jujur dan bohong. Fir’aun mungkin mengatakan ini untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kematian akibat tenggelam.
Kita juga diberitahu bahwa orang-orang Fir’aun sebagaimana Fir’aun sendiri juga menerima bagian hukuman mereka. Dikatakan bahwa bala tentara Fir’aun adalah orang-orang yang angkara murka dan penuh kebencian ( QS Yunus 91), “orang-orang yang berdosa” (QS Qashas 8), “berlaku salah” (QS Qasas 40) dan “mengira bahwa mereka tidak akan pernah kembali kepada Allah” (QS Qasas 39) dan sepeti halnya Fir’aun merekapun patut menerima hukuman dari Allah. Maka Allahpun melemparkan Fir’aun dan bala tentaranya ke dalam laut (QS Qashas 40).
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka dilaut disebabakan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. (QS Al A’raaf 136).
Allah menyebutkan dalam Al Qur’an semua yang terjadi setelah kematian Fir’aun :



Leave a Reply